Subhanallah (( fakta pahit ))..!! Kalian Tidak Akan Menduga Dan Menyadari Bahwa " Smartphone Atau Tablet Yang Kita Gunakan ', Ternyata Salah Satu Komponennya Diproduksi Oleh " Jerih Payah Anak-Anak Di Bawah Umur Ini "..!!




Mungkin selama ini tidak banyak pihak mengetahui atau menyadari bahwa smartphone atau tablet yang kita gunakan, ternyata salah satu komponennya diproduksi oleh jerih payah anak-anak di bawah umur! Jangan kaget. Tapi itulah fakta pahit yang dipaparkan oleh laporan Amnesty International ke publik.

Secara gamblang, Amnesty International mengatakan bahwa komponen baterai dalam iPhone diproduksi dengan bantuan anak-anak berumur berusia tujuh tahun. Laporan itu mengatakan bahwa bahan kobalt yang merupakan material utama pembuatan baterai smartphone ditambang di Republik Demokratik Kongo (DRC). Kegiatan pertambangan ini dilakukan sebagian besar oleh anak-anak bawah umur yang semestinya harus bersekolah dan mendapat perlindungan bukan malah bekerja di areal pertambangan yang resiko bahayanya cukup besar.

Hasil tambang kobalt nantinya akan digunakan dalam produksi baterai smartphone yang akan digunakan oleh berbagai seri iPhone keluaran Apple, smartphone Samsung, dan smartphone besutan Sony. Parahnya, menurut data yang dirilis oleh UNICEF memperkirakan bahwa ada sekitar 40.000 anak-anak yang bekerja di pertambangan kobalt yang terletak di DRC.

Laporan Amnesty International mengatakan kobalt ditambang di daerah-daerah tertentu di DRC, di mana pekerja anak adalah hal yang sangat biasa dan umum. Setelah anak-anak itu menambang, hasilnya kemudian dijual ke pengepul. Pihak pengepul kemudian menjualnya ke produsen komponen baterai di Cina dan Korea Selatan. Dan produsen-produsen baterai itulah yang merupakan pemasok utama komponen baterai yang dijual ke raksasa teknologi di atas.

Terkait hal ini, Apple membuat pernyataan kepada BBC yang menyatakan bahwa tenaga kerja di bawah umur tidak pernah ditolerir dalam rantai pasokan Apple dan Apple bangga telah memimpin industri dalam perlindungan anak yang baru dirintis. Apple juga mengatakan bahwa jika pihaknya menemukan salah satu dari pemasok tertangkap tangan menggunakan tenaga kerja di bawah umur, Apple akan "memaksa" pemasok tersebut untuk mendanai pekerja di bawah umur itu bersekolah, dan kembali ke rumah.

Apple menambahkan bahwa pemasok kemudian harus membayar semua biaya pendidikan pekerja di bawah umur ini, membayar upah yang harus mereka terima dengan layak dan menyediakan lapangan pekerjaan ketika mereka sudah berusia produktif .

Samsung mengatakan bahwa pihaknya memiliki "kebijakan nol toleransi" ketika dihadapkan ke masalah pekerja anak, dan Samsung mengatakan bahwa pihaknya secara rutin melakukan investigasi ke tiap rantai pasokan. "Jika kami menemukan adanya pelanggaran pekerja anak, kontrak dengan pemasok yang menggunakan pekerja anak akan segera kami hentikan," kata Samsung dalam sebuah pernyataan pada media.

Sony juga merilis sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa mereka tidak setuju dengan pekerja anak. Sony bahkan mengatakan pada media bahwa mereka merangkul pihak pemasok untuk tidak menggunakan buruh di bawah umur, terkait hak asasi manusia dan isu-isu perburuhan.

Amnesty International berbicara dengan 87 penambang dan mantan penambang kobalt di DRC. Adapun 17 dari mereka adalah anak-anak di bawah umur, termasuk salah satunya bernama Paul. Paul adalah anak yatim berusia 14 tahun, Paul mengatakan dia menghabiskan 24 jam penuh bekerja di terowongan yang gelap, keluar terowongan sebentar di pagi hari dan masuk kembali di pagi hari berikutnya.

"Saya terpaksa bekerja penuh di terowongan tambang ini ... ibu saya merencanakan untuk mengirim saya ke sekolah, tapi ayah angkat saya menentangnya, beliau bilang lebih baik cari uang. Maka saya hingga sekarang bekerja di tambang," ujar Paul.

Sekitar 50% dari pasokan kobalt dunia ditambang dari Republik Demokratik Kongo (DRC). Materi kobalt-lah yang digunakan dalam baterai Lithium-ion yang ditemukan di dalam perangkat mobile, termasuk yang paling smartphone dan tablet.

"Jutaan orang menikmati manfaat dari teknologi baru tapi jarang bertanya bagaimana komponen tersebut dibuat. Sudah saatnya merek-merek besar mengambil tanggung jawab untuk mulai perduli dengan pertambangan bahan baku untuk membuat produk yang menguntungkan mereka secara finansial. Perusahaan yang keuntungan global sebesar USD$ 125 miyar tidak dapat dipercaya mengklaim bahwa mereka tidak dapat memeriksa di mana sumber pertambangan utama dalam produksi mereka berasal. Sungguh ini sangat menyedihkan!," ujar Mark Dummett, Kepala Peneliti HAM di Amnesty International.

Waah, kalau sudah terbukti seperti itu smartphone kita keren ya ... :-) selebihnya tanya mbah google, kalau pingin lebih jelas datang aja ke Kongo.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.